Bagaimana Saya Mulai Menjadi Pengguna Produk Open Source?

Maret 21, 2011 § 2 Komentar

Saya akan sedikit memberikan cerita untuk selingan tentang bagaimana saya mulai mengenal dunia IT dan kemudian berada di jalur open source. Saya pertama kali menggunakan komputer saat kelas 3 SD. Awalnya saya hanya menggunakan laptop milik ayah saya untuk bermain game dan belajar mengetik. Hal ini tidak saya lakukan rutin karena saya belum memiliki ketertarikan khusus terhadap komputer. Sama sekali belum ada waktu itu.

Waktu terus berjalan hingga akhirnya saya harus pindah ke salah satu kabupaten di DIY, Bantul. Waktu itu saya masih kelas 5 SD dan saya masih

saja seperti saat saya masih kelas 3 SD, belum mengerti dan memiliki ketertarikan pada komputer. Di rumah saya yang baru inilah saya memulai ketertarikan di bidang ini. Saat itu sebagai anak SD saya pulang lebih awal daripada ayah saya yang biasa pulang hingga sore hari. Kebetulan ayah baru saja membeli sebuah PC yang waktu itu masih menggunakan Pentium II. Setiap pulang sekolah saya mencoba-coba menggunakan komputer yang terinstal Windows ME tersebut. Hal yang saya lakukan pun sangat sederhana, misalnya saja mengganti wallpaper, mengubah susunan lagu pada Winamp dan hal-hal kecil lainnya. Tapi dari situlah muncul ketertarikan saya pada dunia komputer, ditambah lagi ayah saya juga sering membeli majalah/tabloid komputer.

Memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi di SMP, saya sudah dianggap ‘dewa’ oleh teman-teman saya. Kenapa hal ini bisa terjadi? Hanya saja saya sudah sedikit familiar dengan susunan keyboard QWERTY hingga saya bisa mengetik sedikit lebih cepat dibandingkan teman-teman saya. Ya, itu saja dan sama sekali tidak ada yang istimewa menurut saya. Walaupun kecepatan mengetik saya dulu masih jauh dari lancar, serta saya masih meraba-raba waktu itu dan masih menggunakan 11 jari :D.

Saat saya masih duduk di kelas 2 SMP, waktu itu saya mulai berkenalan dengan internet. Pada waktu itu pun saya masih belum paham apa itu internet, bagaimana menggunakannya dan apa kegunaannya. Yang saya ingat pada waktu itu adalah saya hanya bisa duduk termangu disebelah teman saya yang sedang membuka situs primbon di laboratorium komputer di SMP kami. Ya, waktu itu primbon adalah situs favorit kami. Melihat penampakan mahluk halus menjadi kegemaran dan sedikit kesombongan beberapa teman-teman karena bisa berinternet ria. Saya pun minta diajari bagaimana cara menggunakan internet. Teman saya hanya mengarahkan dengan cara sederhana, buka Internet Explorer kemudian ketikkan alamat situsnya di bagian address bar (waktu itu saya belum mengenal apa itu address bar, saya hanya mengetahuinya sebagai bagian putih yang bisa diberi tulisan :D).

Saya sedikit berubah sejak itu. Saya diberi sebuah laptop bekas ayah saya. Saya juga mulai mengenal apa itu server saat kelas 1 SMA. Itupun pada saat MOS (Masa Orientasi Siswa) dan saya berlagak menjadi pahlawan untuk salah satu teman saat ditanya oleh guru TIK tentang makalah yang dia buat, yang akhirnya dia menjadi pacar saya waktu itu *blushing* (backsong: Buku Ini Aku Pinjam – Iwan Fals). Pada kelas 1 SMA juga saya takjub dengan salah satu teman saya yang bisa menuliskan nama saya di aplikasi web browser. Saya sama sekali tidak paham bagaimana dia melakukannya. Yang saya ingat adalah dia membuka notepad dan menuliskan kode-kode aneh yang diantaranya adalah nama saya, yang belakangan saya ketahui sebagai dokumen HTML.

Kata orang, kelas 2 SMA adalah waktu dimana ketika kita bisa benar-benar menjadi anak SMA dimana kita bisa merasa bebas. Kelas 1 SMA tentu saja tidak bisa, kita baru saja masuk ke jenjang ini. Kelas 3? Fokus ke ujian. Begitupun dengan saya waktu itu (tapi bukan tentang hal-hal negatif). Di kelas 2 SMA saya dikenalkan Ubuntu versi 7.10 oleh ayah saya. Pada waktu itu saya diajari bagaimana menginstal sistem operasi ini ke dalam komputer. Hal pertama yang ada dalam pikiran saya waktu itu: What the heck with you?! You’re so damn ugly! Did your mom teach you how to get dressed?! Entah bagaimana saya harus menggambarkan tampilan monitor yang serba hitam, dipenuhi kalimat-kalimat dan kode-kode aneh yang datangnya entah dari galaksi mana. Saya diminta untuk menginstal Ubuntu pada komputer saya, tentu saja dengan pendampingan dari ayah saya. Saya mulai dikenalkan dengan apa itu live cd, ext2, ext3, swap, dst. Proses instalasi berjalan dengan lancar. Tapi kacaunya, setelah proses instalasi berhasil saya tidak bisa login ke desktop. Kenapa? Saya lupa password yang saya masukkan sebagai password user. Akhirnya saya ulang proses instalasi. Kali ini sudah sedikit lebih lancar.

Hal aneh juga saya rasakan ketika pertama kali saya melihat tampilan Ubuntu dengan desktop GNOME-nya. Jauh dari kata menarik dengan tampilannya yang serba coklat. Saya kemudian sedikit mencoba-coba sistem operasi yang baru saja saya kenal itu. Saya hanya menggerutu tentang sistem operasi itu. Mengerti kegelisahan saya, ayah saya kemudian memberikan sebuah keping cakram berisi PCLinuxOS 2007. Pada awalnya saya agak curiga, apakah ini akan sama saja dengan Ubuntu, tapi ayah hanya berkata, coba saja dulu. Saya kemudian mencoba menjalankan Live CD PCLinuxOS 2007 di laptop saya. Komentar saya waktu itu: WoW! You’re so cute! This what an operating system mean! Saya begitu tertarik dengan tampilannya. Begitu biru dengan desktop KDE dan efek desktop yang cantik (waktu itu masih menggunakan Beryl, belum menggunakan Compiz). Tanpa ba-bi-bu saya langsung menginstal PCLinuxOS 2007 di laptop saya.

Saya kemudian belajar mengubah konfigurasi PCLinuxOS 2007 dan salah satu hal yang berhasil saya lakukan adalah mengubah bootscreen dari PCLinuxOS 2007 default menjadi gambar pemandangan, betapa senangnya waktu itu. Saya terus melakukan eksplorasi terhadap sistem operasi ini hingga suatu hari saya menemukan ada Ubuntu Release Party di salah satu universitas di Yogyakarta. Saya kemudian berpikir, apa sih hebatnya Ubuntu hingga diadakan acara semacam itu? Saya kemudian mendaftar pada acara tersebut.

Pada saat acara, saya baru tahu tentang betapa hebatnya Ubuntu, mulai dari tampilan desktopnya yang sebenarnya cantik tergantung bagaimana kita mengkustomisasinya, tentang penggunaan CLI (Command Line Interface), tentang dukungan komunitasnya, dan juga tentang repositori. Saya baru mengenal repositori pada waktu itu, termasuk kita diajari bagaimana cara menggunakan repositori. Setelah acara selesai, saya langsung membeli 1 paket DVD repositori Ubuntu hasil ngutang ke teman saya, tragis memang. Sampai rumah langsung saya instal Ubuntu dan mencoba mempraktekan apa yang saya dapat di acara release party tersebut.

Singkat cerita, sejak saya memiliki repositori tersebut, saya jadi rajin mengoprek Ubuntu, termasuk juga rajin menginstal ulang gara-gara hasil oprekan rusak dan saya tidak bisa mengembalikannya seperti semula :D. Hingga pada akhirnya saat kelas 3 SMA, karena saya bisa dibilang cukup rajin, saya sudah bisa mengkonfigurasi web server di Ubuntu, termasuk berkenalan dengan bahasa pemrograman C++, Java dan juga perangkat wajib website (PHP, CSS, MySQL dan JavaScript).

Sejak itulah saya menggunakan produk-produk open source dalam kehidupan sehari-hari saya, dan sedikit banyak sudah bisa lepas dari ketergantungan Microsoft Windows. Kunci dari ini semua adalah kemauan.

=-=-=-=-=
Powered by Blogilo

=-=-=-=-=
Powered by Blogilo

Iklan

§ 2 Responses to Bagaimana Saya Mulai Menjadi Pengguna Produk Open Source?

Corat Coret

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Bagaimana Saya Mulai Menjadi Pengguna Produk Open Source? at Sekedar Catatan Kaki.

meta

%d blogger menyukai ini: